"kapan kau akan pulang ke cina?" tanya Lintang.
"mungkin, kalau tembok besar cina runtuh...aku akan pergi kesana." joseph menatap langit biru di musim semi, langit yang indah untuk menjadi sandaran tubuh yang lelah dengan kehidupan yang selalu berputar ini. "musim semi akan segera berakhir Lintang..." Joseph menutup mata sembari menghela nafas panjang.
"Dan...akan tergantikan dengan musim panas bukan?"
"iya..." joseph tertawa cekikikan dan membuka mata perlahan.
"kenapa kamu tertawa?" tanya lintang penasaran.
"aku sedang membayangkan perempuan Indonesia memakai bikini di pantaio saat musim panas...sungguh aneh."
"ahh~ teryata pikiranmu yang kotor..." Lintang sedikit agak jengkel dengan candaan Joseph. "kami mengenal adat timur..bukan barat..kami tau mana yang harus dijaga sebagai seorang perempuan"
"maaf..."
"Sebenarnya kamu berasal darimana Joseph?"
"Emm~ aku berasala dari negeri yang jauh...." canda joseph lagi. untuk kali ini Lintang tak bisa membendung rasa jengkelnya kepada joseph.
"Kau ini, tidak bisa serius sedikit?" tanya lintang manyun.
"hahaha, maaf...Ayahku keturunan Jawa, Ibuku keturunan Cina...dan kami tinggal di Jerman. mungkin ke dua negara tidak menerima kami. jadi kami tinggal disini." jelasnya.
"Jadi, pernah ke Indonesia?" Lintang mulai penasaran dengan sosok laki-laki yang ada didepannya.
"Pernah...aku suka disana...alamnya indah..."
"Indonesia memang indah..."
mereka terdiam sambil menatap langit biru, mengingat vsetiap jengkal kenangan yang mereka lalui, setiap jengkal kata-kata yang mereka ucapkan dan dengarkan.
***
Ms. Jones taught me English, but I think I just shot her son, Cause he owed me money, with a bullet in the chest you cannot run, Now he's bleeding in a vacant lot, The one in the summer where we used to smoke pot, I guess I didn't mean it, But man you shoulda seen itHis flesh explode
Slow motion, See me let go, We tend to die young, Slow motion, See me let go, What a brother knows, Slow motion, See me let go
"Kau suka Third Eye Blind?" tanya Lintang.
"ya..aku suka..." jawab Joseph sambil memegang gitar yang berada ditangannya.
"aku juga suka...Slow motion..see me let go..." Lintang menyayikaan sepenggal lirik lagu Third Eye Blind-Slow Motion,"Joseph, kau bisa main gitar?"
"Kau bisa lihat aku sedang apa?" Joseph menujukn permainan gitaarnya kepada Lintang.
"aku cuma bercanda..."
"kau tahu, Indonesia sangat kaya...kayu gitar ini berasal dari sana." kata Joseph ," gitaar ini terbuat dari Kayu Lasi yang mempunyai kekeringan yg bagus dan berat jenis yg tergolong tidak terlalu berat. kayu ini tumbuh di area sekitar Sulawesi dan Nusa Tenggara." jelasnya panjang lebar.
"Bukanya ini Kayu Mahoni?" balas Lintang ,"ini ada tulisanya pabrik Gibson, bukanya produk mereka terbuat dari kayu maahoni?" Lintang tersenyum kecil karena Joseph si jenius kalah pengetahuan denganya.
"Iya, coba kamu lihat warnanya, kuning tua , dengan corak bunga sedang dengan serat berpadu ...coba ketuk bodynya...kekerasanya sedang." Joseph tersenyum dan mengelus kepala Lintang. "Mau bernyanyi denganku?" Joseph menawarkan diri untuk bermain gitar dan bernyanyi bersama Lintang. Malam ini indah ketika musim panas akan datang. alunan lembut akustik dan nyanyian yang indah menyambut musim panas yang akan datang besok.
Slow motion, See me let go, We'll remember these days, Slow motion, See me let go, Urban life decay's, Slow motion, See me let go...
Sabtu, 12 Februari 2011
Joseph dan Lintang 2
Lintang duduk bersandar dibawah pohon depan kampusnya. Membolak- balik halaman demi halaman buku dan terpesona atas apa yang telah dia temukan didalamnya.
“Sejak kapan kau disana?” Lintang menajamkan penglihatanya kea rah belakang.
“ Saya Joseph…” Joseph berkata lirih.
“Joseph?” Lintang penasaran dan menutup buku tebalnya.
“Iya…Zhan Bingjiang?sudah ingat kah?” tanyanya, “Kau sedang membaca apa?” Joseph mendekati Lintang perlahan.
“Joseph…bagaimana anda bisa tahu kalau saya sedang disini?” Tanya lintang penasaran. “Jerman sangat luas..” tambahnya.
“Apa yang bisa saya ketahui, Apa yang bisa saya lakukan, dan apa yang bisa saya harapkan…?” Joseph duduk di dekat Lintang, dan mengambil buku yang dibawa lintang sembari membaca dan menujukan kalimat dibuku itu. lintang menatap heran secerdas apakah orang ini…sampai halaman bukupun dia mampu menghafalnya.
“Bagaimana bisa anda tahu?”
“Siapa yang tak kenal Immanuel kant, nona…” godanya lirih.
“Hem…”
“Seluruh penjuru Jerman pun tahu filosofinya…” candanya.
“Apa yang dapat diketahui oleh manusia hanya dipersepsi dan ilusi, semua yang dilakukan oleh manusia imperative, dan yang dapat diharapkan oleh manusia adalah akal dan budinya.” Lintang mengambil buku itu dan membolak-balik halaman yang telah dibacanya.
“Saya sudah tahu, halaman 76…” Lintang membuka halaman 76 yang dikatakan oleh Joseph. Dan benar yang ia katakan pria oriental itu.
“Anda begitu jenius…mungkinkah anda titisan dari Albertus Magnus atau Hegel atau Kalr Marx atau Engels atau bahkan Habermas?”
“hahaha, saya keturunan atau…nona..” Joseph tersenyum kea rah lintang.
“Atau…keturunan Joseph Aspidin…” Lintang membalas senyum pria oriental itu.
***
“Sejak kapan kau disana?” Lintang menajamkan penglihatanya kea rah belakang.
“ Saya Joseph…” Joseph berkata lirih.
“Joseph?” Lintang penasaran dan menutup buku tebalnya.
“Iya…Zhan Bingjiang?sudah ingat kah?” tanyanya, “Kau sedang membaca apa?” Joseph mendekati Lintang perlahan.
“Joseph…bagaimana anda bisa tahu kalau saya sedang disini?” Tanya lintang penasaran. “Jerman sangat luas..” tambahnya.
“Apa yang bisa saya ketahui, Apa yang bisa saya lakukan, dan apa yang bisa saya harapkan…?” Joseph duduk di dekat Lintang, dan mengambil buku yang dibawa lintang sembari membaca dan menujukan kalimat dibuku itu. lintang menatap heran secerdas apakah orang ini…sampai halaman bukupun dia mampu menghafalnya.
“Bagaimana bisa anda tahu?”
“Siapa yang tak kenal Immanuel kant, nona…” godanya lirih.
“Hem…”
“Seluruh penjuru Jerman pun tahu filosofinya…” candanya.
“Apa yang dapat diketahui oleh manusia hanya dipersepsi dan ilusi, semua yang dilakukan oleh manusia imperative, dan yang dapat diharapkan oleh manusia adalah akal dan budinya.” Lintang mengambil buku itu dan membolak-balik halaman yang telah dibacanya.
“Saya sudah tahu, halaman 76…” Lintang membuka halaman 76 yang dikatakan oleh Joseph. Dan benar yang ia katakan pria oriental itu.
“Anda begitu jenius…mungkinkah anda titisan dari Albertus Magnus atau Hegel atau Kalr Marx atau Engels atau bahkan Habermas?”
“hahaha, saya keturunan atau…nona..” Joseph tersenyum kea rah lintang.
“Atau…keturunan Joseph Aspidin…” Lintang membalas senyum pria oriental itu.
***
Categories
Cerpen
Joseph dan Lintang
Hari ini kedai kopi lengang, sepi pengunjung. Layaknya seseorang yang kehausan, Lintang menyeruput kopi panasnya dengan penuh semangat. Matanya yang berbinar-binar menandakan malam ini dia akan merasa lebih ringan karena semua masa...lah dalam hidupnya mungkin akan teratasi di sana.
Kling..kling..
Seorang pria memasuki kedai kopi kecil itu, berwajah oriental dengan membawa tas tabung kecil, seperti tas tabung tempat para arsitek menyimpan gambar-gambarnya.
"Anda seorang arsitek?" tanya Lintang memulai pembicaraan.
"Ya, mungkin saja." Pria itu menghisap rokoknya lalu memainkannya dengan jari-jarinya. Dia menatap Lintang dengan tajam namun tetap ramah lalu bertanya "Anda siapa?"
"Saya Lintang, Anda?" Lintang menghirup kopinya.
"Joseph." Kata-kata pria itu lembut dan terkesan ramah.
"Joseph? Saya kira Anda bernama Zhan Bingjiang." Lintang memulai candaan, menunjukkan senyumnya.
"Nama saya Joseph Aspidin, sama seperti penemu semen Portland tahun 1824. Zhan Bingjiang adalah ilmuan yang menemukan semen dari ketan di tembok china. Mungkin kelak saya akan menamai anak saya Zhang Bingjiang." kata Joseph, melanjutkan candaan yang dikatakan Lintang.
"Anda sudah beristri?" tanya Lintang datar.
"Belum. Belum pernah terlintas di kepala untuk mempunyai istri. Hati sudah mengeras seperti tersiram air." katanya, dengan nada yang mempesona.
"Bahkan hati anda seperti semen." Lintang tertawa.
"Terkadang campuran air dan semen mampu menjadi pasta untuk menyatukan pasir dan kerikil. Tapi terkadang pasta membuat mereka menjadi keras, sekeras batu. Hanya akan retak karena kuat tarik yang rendah. Bukankah begitu, Nona Lintang?" Joseph memandang ke arah Lintang,
"Mungkin seperti itulah hidup." Lintang mengangguk lemah. Joseph menghisap rokoknya. Lintang tersenyum ke arah Joseph. Tapi di dalam kepalanya, Lintang sibuk menerjemahkan kata-kata pria oriental itu.
Kling..kling..
Seorang pria memasuki kedai kopi kecil itu, berwajah oriental dengan membawa tas tabung kecil, seperti tas tabung tempat para arsitek menyimpan gambar-gambarnya.
"Anda seorang arsitek?" tanya Lintang memulai pembicaraan.
"Ya, mungkin saja." Pria itu menghisap rokoknya lalu memainkannya dengan jari-jarinya. Dia menatap Lintang dengan tajam namun tetap ramah lalu bertanya "Anda siapa?"
"Saya Lintang, Anda?" Lintang menghirup kopinya.
"Joseph." Kata-kata pria itu lembut dan terkesan ramah.
"Joseph? Saya kira Anda bernama Zhan Bingjiang." Lintang memulai candaan, menunjukkan senyumnya.
"Nama saya Joseph Aspidin, sama seperti penemu semen Portland tahun 1824. Zhan Bingjiang adalah ilmuan yang menemukan semen dari ketan di tembok china. Mungkin kelak saya akan menamai anak saya Zhang Bingjiang." kata Joseph, melanjutkan candaan yang dikatakan Lintang.
"Anda sudah beristri?" tanya Lintang datar.
"Belum. Belum pernah terlintas di kepala untuk mempunyai istri. Hati sudah mengeras seperti tersiram air." katanya, dengan nada yang mempesona.
"Bahkan hati anda seperti semen." Lintang tertawa.
"Terkadang campuran air dan semen mampu menjadi pasta untuk menyatukan pasir dan kerikil. Tapi terkadang pasta membuat mereka menjadi keras, sekeras batu. Hanya akan retak karena kuat tarik yang rendah. Bukankah begitu, Nona Lintang?" Joseph memandang ke arah Lintang,
"Mungkin seperti itulah hidup." Lintang mengangguk lemah. Joseph menghisap rokoknya. Lintang tersenyum ke arah Joseph. Tapi di dalam kepalanya, Lintang sibuk menerjemahkan kata-kata pria oriental itu.
Categories
Cerpen
Langganan:
Postingan (Atom)