Kamis, 24 Mei 2012

Nyanyian Bisu

Diposting oleh Unknown di 16.00 0 komentar

Jancuk....
Kata yang membuat bulu kuduk bisu...
Asu....
Jemari menjadi kaku...
Kaku dan membisu..
Hei,
Jancuk,
Asu,
Bibirku membiru dan membisu
Kaku tak sepatahpun kata tercabut dari nyawaku...
Di ruang kotak bernama sendu..
Janccuk...
Asu...
Diamkan saja mulut-mulut orang diluar itu
Bungkam kegaduhan yang kaku
Mana lenturku, mana gestur lembutku..
Bisu...
Jancuk...
Asu...
Bagaimana nyalimu?
Tak seperti dulu ketika kau masih disampingku...
Tolong, Kau yang disana
Diamkan, diamkan anak-anak burung diluar sana...
Lelah bibirku membeku, membiru dan bisu..
Dusta itu, pergi lah...
Terlalu gaduh hingga aku berdiri beku
Tak bisa keluar lagi...
Jancuk, Asu, Jancuk, Asu, Jancuk, Asu, Jancuk, Asu !

Kamis, 17 Mei 2012

Pertemuan

Diposting oleh Unknown di 16.45 0 komentar

Pagi ini Jakarta lembab, tak seperti biasanya. Hujan turun kembali ditengah musim kemarau. Cuaca tahun ini memang terasa aneh. Tak bisa di duga apa maunya. Rhea siap menenteng payung untuk pergi ke kampusnya. Perjalanan kaki yang panjang ditengah beceknya jalananan menuju kampus. Dibawanya payung dan dibukanya di depan kos. Dilihatnya Dion sudah berada tepat di depan pintu pagar kos Rhea. Dihampirinya Dion yang tengah berada didalam mobil.

“Mau bareng nggak?” tawar Dion.

“Kaga ah, gue jalan kaki aja...” tolak Rhea.

“Beneran nih, gak mau terima gaji?” goda Dion.

“Wah kalo yang itu gue mau.” Tanpa pikir panjang Rhea langsung membuka pintu mobil dan masuk kedalam mobil sedan milik Dion.

“Cekatan lu, kalo ngomongin soal duit... lagian kaga bisa lu jual mahal sama gue.” Canda Dion lagi. Rhea hanya tersenyum geli melihat tingkah Dion yang menjulurkan lidahnya di depan Rhea.

I’ve been spending all my time...Just thinking about you... I don’t know where to.. I think I’m falling for you..
Terdengar suara ringtone dari hape Dion yang bergetar keras di saku celannya.

“Halo... Iya bu... Iya... Terimakasih Bu.. “

Wajah Dion berubah senang setelah mendapati telepon dari seorang wanita yang dipanggilnnya ‘Ibu’. Rhea cengar cengir sendiri melihat Dion yang berwajah senang. Pasti ada tambahan uang saku, pikirnya.

“Re, Gue naik pangkat jadi manager di perusahaan gue. Lagian ada direktur baru yang ngurus di perusahaan cabang. Dan gue ditempatin di cabang. Jadi tambah deket deh sama lu...” Dion tersenyum lebar . ”Kan jadi ada yang bantuin kalo dapet banyak job...” tambahnya.

“Yang kemarin aja belum lu bayar, pake tambah job segala.” Rhea tersenyum sambil menjabat tangan Dion 

“Selamat ya.. pak manager Dion Anggara Putra.”

“Gue traktir deh entar bis balik kuliah.” Dion membalas jabatan tangan Rhea yang sedari tadi mengantung ditengah.

“Lama banget jabatnya. Pegel tau...”

“Iya iya.. sori ..” balas Dion nyengir.

Jalan menuju kampus terasa jauh bagi Rhea. Rhea seperti buah melon yang kehilangan sarinya. Tubuhnya tetap berada di mobil Dion. Namun pikiranya jauh menerawang kearah luar. Sekilas terbesit pikiran tentang keadaan temanya, Tifa. Apakah dia baik-baik saja?dimana ia sekarang? Suah seminggu sejak kejadian itu, Rhea tak pernah bertemu dengan Tifa. Dia seperti diculik oleh alien luar angkasa dan dibawa ke suatu planet antah berantah, hilang dan tak ada kabar.

“Lo kenapa Re?” tanya Dion “Gak enak badan?” tambahnya. Rhea tetap bungkam tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Mulutnya seperti terkunci oleh benda hitam yang masuk dalam kerongkongannya, berat dan lesu. Dion tak menyadari apa yang sedang terjadi dengan teman dekatnya, sekaligus wanita yang ia kagumi sejak pertama bertemu. Namun, ia tak pernah mendefisinikan rasa yang ia alami sebagai rasa cinta kepada sosok hawa, belahan jiwa yang agung. Hanya perasaan kagum dengan seorang teman yang selalu ada saat ia jatuh maupun ia utuh. Dion melirik ekspresi Rhea yang sedari tadi seperti tak mendengarkan perkataannya. Dion menghela nafas panjang dan mengulang kalimat yang masih menggulung dalam kerongkongannya.

“Lo kenapa Re?” tekan Dion.

“Gak papa. Gue turunin di pertigaan situ aja.” Jawab Rhea malas sambil menunjukkan arah pertigaan lingkungan kampusnya. Tanpa pikir panjang Dion langsung kearah yang ditunjukkan Rhea.

“Sampai deh, tuan putri...” goda Dion. Rhea masih tanpa Ekspresi, membuka pintu dengan senyuman datar.

“Senyum yang lebar donk.. entar kan dapet bayaran...” tambah Dion.

Dion membuka kaca jendela sambil melambaikan tangan. Rhea membalas lambaian tangan Dion. Mobil sedan Dion berlalu kearah luar kampus. Rhea berjalan menuju lantai 3 gedung fakultas teknik jurusan teknik sipil. Lorong-lorong yang ia lewati terasa sepi dan sunyi. Para mahasiswa semester bawah sedang mengikuti kuliahnya dengan anteng. Terlihat dari jendela luar ruangan seorang sedang melambaikan tanganya kearah Rhea. laki-laki itu berperawakan tinggi kurus. Guntur nama laki-laki itu. Rhea membalas lambaian tangannya dengan cengiran nya.

***
Meja Pak Hang masih tertata rapi, tak terlihat batang hidung beliau pernah duduk di kursi ini sejak pagi tadi. Tak ada tanda-tanda Pak Hang datang ke kampus hari ini. Ini terlihat sangat aneh dari biasanya. Pak Hang adalah dosen terajin di kampus ini, walaupun umurnya masih muda namun kinerja nya dalam membawakan bahan perkuliahan mahasiswa sangat istimewa. Rhea mulai mengetik nomor telepon Pak Hang. Perlahan suara langkah kaki mendekati meja Pak Hang. Pak Sunu, OB yang sering membersihkan kantor dosen disini.

“Permisi Pak...” sapa Rhea

“Iya , Mbak ada apa?” Pak Sunu memandang wajah Rhea sambil meletakkan sapu nya di dekat meja.

“Pak Hang kemana ya pak?”

“Oh, Pak Hang sedang ke luar kota mbak . Katanya ada semir semir apa gitu mbak...” Pak Sunu mengaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.

“Seminar ?” Rhea terkekek melihat tingkah laku Pak Sunu yang salah tingkah menyebutkan nama.

“Iya itu Mbak...”

“Oh gitu Pak, ya udah deh pak makasih ya pak...” Rhea meninggalkan ruangan Pak Hang. Dari kejauhan terlihat Guntur mendekati Rhea.

“Ngapain lu di kampus.. abadi abadi lu...” sindir Guntur.

“Ye.. yang abadi si elu...” bales Rhea.

Rhea duduk di kursi Mie ayam Bu Atun. Warung mie ayam murah deket kampus. Walaupun harus berjalan keluar kampus yang cukup jauh, namun tempat makan Bu Atun gak ada matinya. Mie ayam yang dijual disini tanpa bahan pengawet ataupun pewarna apapun. Rasanya yang menggoda dan harga nya cukup murah untuk mie ayam di daerah Depok dan sekitarnya yang cukup mahal. Rhea duduk di meja sebelah pojok. Di meja ini cukup sepi karena hanya ada dia dan Guntur. Rhea mengaduk –aduk mie ayam bakso yang telah dipesannya.

“Ngalamun lagi Re?” Pertanyaan Guntur menghidupkan kembali otak Rhea yang sedari tadi pgi rada gak konek. Rhea tersentak dan menambahkan saus dan sambel ke dalam mangkuk mie ayam baksonya.

“Nggak kebanyakan tuh Re...” tambah Guntur. Rhea tersenyum melihat tingkahnya sendiri yang memasukkan sambel terlalu banyak.

“Re,Re.. ada masalah apaan si , sampe sebegitu-begitunya?” tambahnya lagi.

“Gak ada apa-apa Tur, Cuma kangen rumah aja...” jawab Rhea sekenannya.

“Ya, pulang lah Re.. lagian skripsi lu kan kurang dikit lagi.” Guntur memasukkan mie ayam terpanjangnya kedalam mulutnya yang menganga penuh tanda kelaparan.

“Laper banget lu Tur?”

“Yoi, dari tadi pagi gue belum makan... biasa anak kos yang gak punya duit.” Rhea tertawa geli mendengar celotehan temennya.

“Ya udah deh, gue bayar dulu... gue mau pulang soalnya. Mupung masih banyak rejeki nih gue..” kata Rhea bangga.

“Dewi Rhea emang bener-bener top markotop.” Puji Guntur.

Rhea tersenyum dan melangkahkan kaki menuju Bu Atun yang sedari tadi duduk di meja kasir. Bu Atun tersenyum melihat Rhea, Rhea pun membalas senyum Bu Atun. Seorang pria mendekati meja kasir. Harum parfum mask laki-laki itu tercium sampai ke hidung Rhea. Rhea melirik ke samping kanan nya. Laki-laki itu terlihat tinggi , putih dan berisi. Dia memakai hem merah dan kaos hitam didalamnya, sepatu kets dan tas punggung yang disampirkannya di sisi kanan lengannya. Rhea tersenyum ke arah laki-laki yang ada disamping kanannya. Laki-laki itu membalas senyum Rhea. terlihat kehangatan di senyum laki-laki itu.

“Bu, jadinya berapa? Mie ayam bakso dua, sama teh anget nya dua.” Kata Rhea

“Dua puluh lima ribu , mbak..” Rhea mengorek-ngorek isi tasnya, mencari senuah benda kecil yang selalu di bawanya. Dompetnya. Astaga, dia lupa tak membawa dompetnya.

“Ada apa Mbak?” tanya Bu Atun.

“Dompet saya ketinggalan Bu...bentar ya bu, saya tanya teman saya dulu.” Rhea buru-buru menghampiri Guntur. Mendengar cerita Rhea wajah Guntur langsung memucat. Ya, Rhea pun tau Guntur sedang tak bawa uang sepeserpun di dompetnya. Mereka berdua berjalan menghampiri Bu Atun yang sedari tadi menunggu perdiskusian antara Rhea dan Guntur.

“Maaf Bu, saya gak bawa dompet. Temen saya juga lupa gak bawa dompet bu.” Kata Rhea menunduk meminta maaf.

“Gak bawa dompet kok seragaman Mbak...” Rhea dan Guntur nyengir ke arah Bu Atun supaya diampuni kesalahan mereka berdua. “Sudah mbak, tadi udah dibayarin sama mas mas yang tadi pake baju merah itu...” Rhea tersentak mendengar kata Bu Atun. Lantas, bagaimana ia sangat berterimakasih dengan laki-laki itu?siapa dia?tinggal dimana dia?apa dia satu kampus dengannya?

***

Sepanjang perjalanan Rhea hanya memikirkan sosok misterius laki-laki yang ditemuinya tadi. Dalam hatinya ia akan membayar utang dua puluh lima ribunya . Malam ini tak ada bintang muncul di atap langit bernama Jakarta. Rhea terlihat kelelahan membuang sampah di dekat trotoar jalan. Cafe tempatnya bekerja part time terlihat sangat lenggang. Dari hari ke hari pemasukkan terlalu sedikit daripada pengeluaran. Ia baru beberapa bulan ini bekerja di Cafe budhenya yang tinggal di Jakarta. Selain menambah uang jajan pekerjaan ini juga dapat membawa mimpi-mimpinya kembali kedalam pelukannya. Harum kopi selalu membawanya akan kampung halamannya yang ia rindukan. Hawa yang sejuk harum kopi  di malam-malam dingin dan tentu di temani dengan buku-buku novel yang disukainya. Ia rindu dengan kapung halamanya. Jogja.



Selasa, 15 Mei 2012

Kenangan

Diposting oleh Unknown di 17.09 0 komentar

***
“Emang paling enak tuh sotonya Bang Karyo...” Rhea mengambil sate kerang di dekat mangkuk soto yang telah ia libas habis tanpa sisa dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Sementara  Dion masih dengan suapan terakhirnya, menghabiskan soto skala besar yang dipesannya. Sambil megap-megap karena kepedesan Dion mengambil es teh didekat mangkok sotonya dan melibas habis es teh tanpa sisa.

“Kenyang...” gumam Dion. “Emang bener gak salah pilih gue, punya temen ratu makan...” sindir Dion.

“Enak kan pilihan gue.. Murah lagi...” timpal Rhea bangga.

“Bener aja lu sering kesini, teryata selain enak, murah juga...”   

Dari kejauhan terlihat seorang perempuan tinggi, berambut panjang, berkulit putih keluar dari mobil jazz merahnya. Perempuan itu mendekati Rhea dan Dion yang sejak tadi terlihat sibuk menghabiskan makanan dan besenda gurau.

“Rhea....” panggil perempuan itu. Tifa.

“Eh elu Fa, kenalin nih temen gue. Dion. Yon, ini Tifa...” Dion mengulurkan tangan kepada Tifa, tanda pertemanan mereka dimulai. “Dion ini kakak kelas gue waktu SMA lho... pinter juga lho.. pinter ngerepotin orang maksudnya...” kata Rhea setengah berbisik.

“Sialalan lu Re, nyela gue aja terus...” Dion mempersilahkan Tifa duduk disamping Rhea. “Duduk dulu Fa. Bener-bener nih anak, biarin temen sendiri berdiri kaya mau upacara bendera.”

“Ups.. sori Fa, ada apa Fa? Gak biasanya lu sampe sini demi gue...” Rhea menatap wajah Tifa yang sembab.

“Gue.. gue gak bisa ngomong disini Re...” kedua tangan Tifa mengengam erat tangan Rhea. Dari sorot mata Tifa terlihat urat kecemasan yang mendalam. Rhea berbicara lewat bahasa tubuh ke arah Dion “Yon, kerjaannya lanjut besok aja ya...”. Dion menganguk tanda ia mengerti. Dion bangkit dari kursinya dan berjalan mendekati Bang Karyo yang tengah sibuk mengelap mangkok kecil tempat sotonya. Suasana menjadi tegang setelah Dion pamit pulang kerumahnya.

“Re,Fa, Gue pamit pulang dulu.. barang-barang gue tinggal ditempat lu, entar malem gue ke kos lu lagi.” 

Dion melambaikan tangan kearah mereka berdua. Suasana masih diselimuti kabut tebal, setebal kabut digunung himalaya. Rhea mengajak Tifa pulang ke kosnya. Tifa hanya menganguk dan berjalan menuju mobilnya. Sepanjang perjalanan menuju kos Tifa hanya diam mematung. Tak ada kata, bahkan huruf yang diucapkannya. Mobil jazz merah itu berhenti di depan kos Rhea. Mereka berdua turun dari mobil dan berjalan menuju kamar. Raut wajah Tifa masih seperti setengah jam yang lalu, tetap muram dan menyimpan banyak luka dan kesedihan.

“Fa, lu kenapa?” pancing Rhea memulai pertanyaan.

“Papa gue selingkuh Re, dan lu tau?siap selingkuhannya?” Tifa menunduk ,air mata yang dari tadi di bendungnya kini kian tumpah. Sambil terisak dia melanjutkan kalimatnya “Sama Budhe gue Re...”
Rhea memeluk Tifa dengan penuh kasih sayang. Rhea mengerti bagaimana perasaan yang dialami Tifa. Karena semenjak SMP dia ditinggal kedua orang tuanya cerai. Tifa menangis sejadinya dipelukan Rhea.

“Udah Fa, sabar...”kata Rhea sambil menepuk bahu Tifa.

“Gue udah sabar Re, Gue udah coba buat gak ngasih tau kejadian ini ke mama Re... dan papa ngancdem gue, kalau sampai gue berani kasih tau mama... papa akan...hiks..” Tifa diam tak mampu meneruskan perkataannya.

“Cerai?” tanya Rhea disertai angukan dari Tifa. Atmosfir ruangan Rhea semankin sempit. Burung-burung yang biasa bertenger di pagar tak tampak batang hidungnya, dalam sekejap ruangan menjadi sunyi, hanya tangisan Tifa yang samar terdengar kemudian hilang bak ditelan bumi. Tifa masih dengan tangis sengukannya. 

Namun kali ini sedikit reda. Karena hujan pun akan reda dan setelahnya akan ada pelangi yang menghiasi indahnya langit.

“Malam ini , gue tidur tempat lu ya.. Re..” Rhea hanya menganguk. Rhea menyuruh Tifa agar dapat tidur lebih awal, agar pikirannya yang sedang berkecamuk dapat tenang barang sejenak. Beberapa menit kemudian dilihatnya Tifa yang sudah tidur dengan pulas sambil memeluk boneka doraemonnya. Segurat raut wajah Tifa terlihat sangat kelelahan dengan beban masalahnya yang ia tanggung dari kesalahan ayahnya. Rhea teringat sesuatu, yang membuat dia membenci sosok seorang ayah yang pernah ada dalam hidupnya...

***

“Ini anak ayah yang paling pinter...” kata seseorang dari kejauhan seraya membopong lengan putri kecilnya.

“Iya ayah.. gambarku bagus kan...” kata anak perempuan itu dengan bangga.

“Iya bagus banget.. siapa dulu yang gambar, kan putri ayah...” jawab pria itu bangga.

“Mas...” Panggil seorang wanita dari depan pintu.

“Ayah perggi dulu ya sayang...” pamit sang ayah.

“Ayah jangan pergi..Ayah jangan pergi...” rengek anak perempuan itu.

“Mas, kamu mau pergi kemana?” tanya wanita muda yang muncul dari arah kamar sambil menahan isak tangis, wanita itu mengendong putrinya. “Jangan sentuh putriku.” Gertak wanita itu.

“Aku akan pergi, kita bertemu besok di Pengadilan.” Jawab Ayah itu tegas.

“Ayah.. jangan pergi... Ayah...”

***

Edo terbangun dari tidur panjangnya. Kamar itu terlihat lebih luas dari biasanya.  Edo menatap langit-langit atas kamar. Edo bangun dan berjalan menuju jendela kamar. Dilihatnya angkasa raya yang membentang, tak satu pun bintang malam yang terlihat oleh mata nya. Jakarta memang seperti itu, lampu-lampu kota dan asap-asap tebal menyurutkan niat bintang untuk datang menyinari keindahan kota.

Hanya satu bintang yang paling diingat dan selalu ada dalam hatinya, namun sekarang bintang itu telah pergi meninggalkanya. Bintang yang menjadi tolak ukur kerja kerasnya, bintang yang selalu memberikanya semangat untuk tetap menjaga ibunya. Bintang itu adalah ayah. Mendadak suasana menjadi sangat sepi. 

Seandainya tubuh ayahnya dapat di transplantasi ke tubuhnya, Edo akan melakukannya. Hanya saja dokter akan menyangkanya orang gila. Edo tertawa kecil mengingat kejadian masa kecil itu, dia merengek minta diberi tangan dan kaki ayahnya, biar dia bisa menjadi seorang yang mampu menjaga ibunya.
Edo tersenyum sambil berjalan menuju tempat tidur dan kembali tidur dalam mimpinya. Bintang-bintang.

***

Rhea terbangun dari mimpi buruknya, nafasnya yang ngos-ngosan dan keringatnya yang mengucur deras membuatnya berjalan keluar untuk mengambil segelas air. Diminumnya air itu dengan sekali tegukan. Ia rindu pada ayahnya, tapi ia sangat membencinya. Sudah empat setengah tahun ia tak bertemu dengan ayahnya. \

Semenjak dia memilih kuliah di Jakarta dan meninggalkan kampung halamannya di Jogja. Rhea berjalan ke arah pintu luar, dilewatinya lorong panjang untuk melihat sebuah bintang di depan kosnya. Dibukanya pintu kos dengan perlahan agar tak membangunkan warga kos yang jumlahnya pas untuk diajak tawuran antar pelajar se depok. Angin malam berhembus kesela-sela kulit Rhea. dilihatnya langit kota jakarta yang cerah, namun barang kecil yang dicari-cari tak ingin muncul terlihat oleh matanya. Bintang. Mungkin kalau dia naik keatas genteng kos nya ia akan meliaht sebuah bintang jatuh dan membuat sebuah permintaan dan doa untuk malam ini dan esok mendatang. Diambilnya tangga di dekat tembok samping kosnya dan perlahan ia mulai langkah demi langkah untuk menaiki tangga yang terbuat dari bambu usang itu. Setelah ia duduk diatas genteng perlahan ia menutup kedua mata dan menghirup udara dalam-dalam. Udara di Jakarta memang tak seperti di Jogja, dan suasananya tak sedamai di Jogja. Sekejap Rhea merindukan kampung halamanannya. 

Rhea kembali membuka kedua matanya dan mencari sesosok bintang yang selalu dinantikanya, Rhea. nama bintang yang diberikan olehnya sendiri waktu kecil. Ketika ia sedang bermain dengan teman lamanya yang sekarang hilang entah kemana. Meninggalkanya ketika ia menginginkan seorang teman berada disampingnya. 

Waktu cepat berlalu, semua hal sudah berjalan sesuai kehendak-Nya. Rhea menguap , tanda ia harus tidur malam yang sudah larut ini. Perlahan ia kembali menuruni tangga dan berjalan menuju dalam kamar nya.

“Re, habis dari mana?” tanya Tifa yang terbangun karena suara pintu yang terbuka.

“Bis dari belakang.” Jawab Rhea seraya mengambil selimut dan tidur di dekat Tifa.

“Makasih ya Re, lu emang sahabat gue yang paling baek..” Tifa memalingkan wajah di atas muka Rhea sambil mencubit pipi Rhea.

“Aduh... Udah sembuh sindrom patah lu...” Jerit Rhea sambil membalas cubitan Tifa. Tifa hanya balas mengganguk kemudian melepaskan cubitanyanya dan kembali memeluk Rhea. Rhea hanya diam seperti patung. Melihat sahabatnya tersenyum kembali Rhea jadi lega.

“Apa-apaan sih.. Udah tidur Fa...” Tifa hanya mengganguk dan kembali dalam selimut mimpi-mimpinya yang tak tau kapan akan berujung bahagia.

***



Senin, 14 Mei 2012

Pertama

Diposting oleh Unknown di 17.21 0 komentar

Dari sudut kamar terlihat beberapa rak buku yang ditata sedemikian apik. Dari arah jendela terlihat siluet cahaya matahari yang tenggelam dari arah jendela yang menonjolkan kesan tentram dan damai. Kamar yang berukuran 3,5 X 3,5 meter itu mampu menghipnotis orang yang akan masuk ke dalamnya untuk sejenak menikmati suasana didalam kamar maupun di balkon depan kamar.

Dari sudut yang berbeda terlihat seorang perempuan berambut panjang yang sedang membaca majalah di sofa dekat jendela kamarnya. Sesekali perempuan itu memandang ke arah jendela. Di dapatinya sepasang burung gereja bermain diatas pagar teras kamarnya. Burung-burung itu seperti sedang membicarakan sesuatu. Entah apa yang sedang mereka bicarakan, mungkin tentang santapan sarapan, hangout hari minggu yang cerah ini atau tentang suasana alam yang perlahan  hilang oleh segerombolan orang yang menjejaki wilayah mereka. Perempuan itu tersenyum simpul dengan pemikiran-pemikiran konyol yang dibuatnya sendiri. Sejurus kemudian perlahan seseorang mengetuk pintu kamarnya. Perempuan yang bernama Rhea itu langsung sigap menutup majalah yang sedang ia baca, dan berjalan menuju pintu kamarnya.

Terlihat seorang pria kekar , bertubuh sawo matang dan berwajah sanggar berdiri di depan pintu menunggu seorang Rhea membukakan pintu untuknya.  Pintu itu perlahan dibuka, sontak Rhea kaget melihat sesosok kekar dihadapannya. Dion.

“Dion.. Ada apa weekend gini lu kesini?” Rhea  menggaruk rambutnya yang terasa tak gatal.

“Ada kerjaan bejubel nih Re, gila aja besok selasa kudu jadi. Mana desain belum jadi, orangnya riwil lagi.” 

Dion masih berdiri di depan pintu membawa map gambar projek yang ia desain semalam suntuk di tangan kanannya, dan tas punggung eiger yang berisi leptop dan makanan ringan didalamnya dan  berharap Rhea mau membantunya. Rhea masih dengan pikiran-pikiranya tentang hari minggu yang telah ia rancang dari bulan yang lalu, bahwa hari minggu ini tidak ada acara lembur-lemburan kerjaan. Tapi, setelah melihat sahabatnya yang memelas Rhea tak punya pilihan lain selain membantu Dion.

“Berani bayar berapa lu , Yon?” tanya Rhea basa-basi.

“Terserah yang lu minta, yang penting ni project jadi. Kurang ME, anggaran biaya, anggaran pelaksanaan, Gambar 3D sama site plan-nya udah gue buat. Jadi lu buat ME, anggaran biaya sama anggaran pelaksanaan.” Cerocos Dion panjang lebar.

“Gile lu, nah elu dapet kerjaan apaan?”

“Gue capek mau tidur bentar disini. Lu buat dulu lima jam kedepan. Nanti gue lanjut lagi. Pliss ya Re...” Dion mengangkat kedua tangannya keatas sambil memasang muka yang memelas.

“Ngapain lu?gue gak bakal nembak lu.. bedain gestur buat minta ampun sama minta tolong aja gak bisa lu..” Dion ngeloyor pergi ke ruang tengah kos Rhea sambil merebahkan tubuhnya yang dua hari ini tak pernah tidur karena lembur pekerjaan proyek-proyek kantornya , maklum saja Dion diterima di Perusahaan Konsultan perencanaan terkemuka di ibukota.

“Gambarnya mana, Yon?” Dion meletakkan map dan tasnya di meja dekat ia merebahkan tubuh di sofa. Tanpa berucap Rhea langsung tahu dimana ia meletakkan gambarnya. Tanpa berpikir panjang Rhea mengambil Leptop dikamarnya.

“Keker badanya aja lu Yon, Meleknya susah...” sindir Rhea.

“Gue denger Re, gue potong gaji lu kalo nrocos lagi...”

Rhea diam mendengar ucapan Dion. Rhea kembali menyibukkan diri oleh pekerjaan rutinnya. Dia sedikit lebih tau dibanding teman-teman seangkatanya tentang pekerjaan yang akan dijalani mereka, karena ia sering mendapatkan job dadakan dari dosen maupun sahabatnya, Dion.  Sudah empat setengah tahun ia kuliah di UI tanpa menyandang gelar sarjana karena kesibukan pekerjaan yang menuntut profesionalitas.  Kadang ia harus pergi keluar kota  untuk meninjau pelaksanaan pekerjaan apakah sesuai dengan rencana atau tidak. Banyak teman-temannya yang iri dengan nasib Rhea yang semujur itu.

Sudah beberapa menit berlalu, suara dengkuran Dion makin kental terdengar. Dan Rhea masih sibuk dengan harga-harga yang tertera di layar leptopnya. Dari harga pasir sampai harga engsel pintu Rhea hitung matang-matang. Volume nya pun ia hitung dengan cermat. Tak terasa detik, menit , jam berlalu. Hampir lima jam Rhea sibuk mengotak-atik program excelnya. Terdengar lagu Colbie Caillat-Fallin for you dari saku celana panjang Dion.

I’ve been spending all my time...Just thinking about you... I don’t know where to.. I think I’m falling for you..

Dion meraba saku celananya, dengan mata sayu ia mematikan alarm HP nya. Sesekali ia mengolet untuk merengangkan otot-otot tubuhnya. Didapatinya Rhea yang sedang sibuk menghitung angka-angka yang berjumlah milyaran rupiah itu. Dion kembali ke dunia realitasnya, dunia yang menginginkan keahlianya dengan cepat dan tepat sasaran. Dion menghela nafas panjang, ia masih ingin menjejakkan kakinya di dalam dunia khayal tanpa batasnya. Menelusuri lorong-lorong penuh tanda tanya yang selalu ia datangi ke dalam mimpinya.

“Udah selesai Re?” tanya Dion membuka percakapan.

“Gila lu, kerjaan gini banyaknya suruh selesai cepet.. gue masih mahasiswa tingkat akhir Yon, bukan profesional kaya elu...” kata Rhea dengan nada protes.

“Entar juga lu  ditutut profesional Re... kelarin aja kerjaannya. Oh ya, di tas gue ada cemilan tuh. Makan aja.” Dion menunjukkan tas yang ada disamping Rhea duduk.

“Udah gue libas tuntas.. tapi masih laper Yon..” Rhea menatap wajah Dion sambil senyum cekikikan. Sudah menjadi kebiasaan Rhea yang doyan makan untuk memburu harta karun berupa ‘makanan’ di tas Dion yang kayak tas orang mau naik gunung itu.

“Luar biadab lu Re, itu makanan kan gue siapin buat kita berdua.. bener-bener jelmaannya si Lufi lu Re...”

“Idih... masa gue disamain sama manusia karet...” Dion tertawa melihat tingkah laku sahabatnya yang satu itu. Dion dan Rhea memang suka nonton kartun ‘One Piece’ serial kartun televisi yang biasa ditanyangkan setiap hari minggu itu. Si Lufi merupakan tokoh utama dari serial kartun tersebut, sekaligus pemimpin dari tim bajak lautnya. Tubuhnya yang seperti karet membuat Dion dan Rhea geli sendiri kalau menontonnya.

“Re, gue laper nih.. makan siang dulu yuk...” Rhea mendengar sinyal orang kelaparan di sampingnya.

“Dari tadi kek..yuk..capcus...Soto Bang Karyo.”

***

Sebuah mobil sedan silver memasuki kawasan bandara soekarno-hatta. Seorang bertubuh tinggi , berkulit putih keluar dari pintu penerbangan domestik. Pria itu menenteng tas ranselnya dan sebuah koper kecil tempat barang-barangnya. Dilihatnya papan-papan nama yang menyebutkan namanya. Bapak Edo.  Pria itu berjalan menghampiri bapak paruh baya yang sedari tadi menungguinya.

Bapak Edo, saking Semarang?” tanya Pak Adi, nama pria paruh baya yang menunggui Edo.

Nggih Pak.. kulo Edo saking Semarang.” Tanpa sungkan Pak Adi membawakan koper Edo dan mengantarkanya menuju mobil yang sudah ia siapkan di depan bandara. Edo masuk kedalam mobil sedan silver itu, di jok belakang terdapat sebuah bantal kodok yang terselip dibawah. Edo teringat pada sosok perempuan lucu yang selalu hadir dimimpinya. Tifa. Mungkin sekarang ia sudah besar. Gumam Edo.

“Bapak sudah ditunggu Ibu di kantor. Jadi, saya yang bawa barang-barang bapak ke rumah. Itu pesan dari Ibu.” Kata Pak Adi dengan logat jawanya yang masih kental.

“Oh, Iya Pak...Maturnuwun..”

Jalan Jakarta terasa begitu padat berbeda dengan Semarang yang selalu lenggang. Edo menarik nafas dalam-dalam berharap udara Semarang masih tersisa di mobil ini. Di sepanjang perjalanan Edo hanya memandang ke arah luar jendela, berharap ada sebuah inspirasi yang mampu mengisi kekosongan didalam pikirannya.

Mobil sedan silver itu kini telah sampai di depan kantor PT. Cipta Karya Perusahaan konsultan ternama diibukota. Edo melangkah keluar dari mobil dan menuju lift yang terletak di pojok kanan dalam gedung. Seorang satpam memandang Edo heran dan kagum.

“Mas nya, Dude Herlino ya?” tanya satpam yang takjub melihat Edo.

“Bukan mas, salah orang...” Edo tertawa cekikikan mendengar perkataan pak satpam itu. Cukup lama Edo menunggu lift nya terbuka.  Tak sampai lima menit ia sudah sampai di kantor Tante Wijaya. Kantor dari PT. Cipta Karya yang dimiliki oleh adik dari almarhum ayahnya. Edo mulai mengetuk pintu, berharap Tante Wijaya di dalam kantor. Suara langkah kaki mendekati ujung pintu. Seorang wanita paruh baya yang masih ayu , membukakan pintu.

“Eh, Sinang Edo.. Sudah gedhe ya sekarang...” Tante Wijaya memegang kedua lengan Edo sambil mempersilahkannya masuk.

“Iya, Tante... masa mau kecil terus.” Canda Edo.

“Iya, ya.. Tifa sekarang juga udah besar lho Do... kalian kan sering main bareng dulu pas tante masih di Semarang...” Tante tersenyum membayangkan Edo dan Tifa anaknya dulu bermain bersama. “Oh iya Do, berhubung tante buka cabang didaerah Jakarta Selatan jadi kamu yang hendel disana.” Tambah Tante Wijaya.

“Saya sendirian tante?”

“Nggak Do, nanti tante suruh anak buah tante nemenin kamu.” Edo hanya diam sesekali mengganguk tanda ia mengerti.

***





̿

Sabtu, 12 Mei 2012

BIGBANG - LET ME HEAR YOUR VOICE

Diposting oleh Unknown di 16.35 0 komentar



Romanji


Sakki made no ame wa mou agatte
Asufaluto tadayou machi no nioi
Nee socchi mo mou hareteru yo ne
Nishi kara kaifuku surutte
Asa wa negate na kimi dakara nee
Mainichi chanto okirareteru kai?
Sonna koto imada ni shinpai shiteru yo

Hirogaru sora wa sou jiyuu de
Nani mo kawattenai keredo
Tonari ni ima wa tada… tada kimi ga inai dake

Koe wo kikasete
Sunao ni nareba kitto
Wakari aeru hazu sa
Kokoro wo hiraite
Koe wo kikasete
Aruitekita michi wa bokutachi ni totte kitto
Taisetsu na STEP sa sono mirai e no

Kimi to hajimete deatta no wa sou
Choudo ima kurai no kisetsu datta ne
Raito appu shita machinami ga
Kirei ni kagayaiteita
Nakimushi na kimi wa are kara yoku
Boku no kata ni odeko wo nokkete
Naiteta ne sono nukumori ni
Mushou ni furetaku naru

Hito wa dare demo sorezore ni nayami wo kakaete ikiru
Koware souna kokoro wo hisshi ni dakishimete

Koe wo kikasete
Yasashiku nareba motto
Aishiaeru hazu sa
Me wo sora sanai de
Koe wo kikasete
Karami tsuku fuan mo sabishisa mo koete yukou
Ima no kono kimochi ga kizuna ni naru


ENGLISH



Yeah, Since you went away hasn't been the same
In my heart all I got is pain
Could it be that I played a game to lose you, I can't maintain
Sunlight moonlight you lit my life realize in the night
while love shines bright
Cant let you go we're meant forever baby let me know

This past without you, Can't forget you
Letting me be the cloud hanging above me
Raining on me missing you touch
Nights get long and it's hard to clutch
We're apart breaks my heart
Its all for the best girl you're my world
In time my love unfurls
He will then wait for you girl

Koe wo kikasete
Sunao ni nareba kitto
Wakari aeru hazu sa
Kokoro wo hiraite
Koe wo kikasete
Aruitekita michi wa bokutachi ni totte kitto
Taisetsu na STEP sa sono mirai e no


The rain just now has stopped
The smell of asphalt is floating around the city
Hey, over there too, the weather is fine already right?
For the weather has cleared up from the west (***)
Since you’re not a morning person
Everyday, will you be able to wake up properly?
I’m still worried about things like that

The spreading sky, the freedom
Although neither of them has changed
Right now, just that… it’s only just that you are not by my side

Let me hear your voice
If we become honest, surely
We'll be able to understand each other
Please open your heart
Let me hear your voice
The path we have come is, for us, definitely
An important STEP to that future

The first time I met you was
Around this season right?
The light up street was
Glowing beautifully
The crybaby-you, from that time on, often
Laid your forehead on my shoulder
You were crying right? That extreme warmth
From your touch on my shoulder

Everyone lives, carrying his own worry
Desperately holding his broken heart

Let me hear you voice
If we become more kind
We'll be able to love each other
Don’t avert my eyes
Let me hear your voice
Let's get over those entwined anxieties and loneliness
The feelings of this moment become our bond

Yeah, Since you went away hasn't been the same
In my heart all I got is pain
Could it be that I played a game to lose you, I can't maintain
Sunlight moonlight you lit my life realize in the night
while love shines bright
Cant let you go we're meant forever baby let me know

This past without you, Can't forget you
Letting me be the cloud hanging above me
Raining on me missing you touch
Nights get long and it's hard to clutch
We're apart breaks my heart
Its all for the best girl you're my world
In time my love unfurls
He will then wait for you girl

Let me hear your voice
If we become honest, surely
We'll be able to understand each other
Please open your heart
Let me hear your voice
The path we have come is, for us, surely
An important STEP to that future




NB : Seperti suasana hati lagi.
 

Kopi Gudeg Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting